Namanya Raka. Umurnya dua puluh tiga tahun ketika ia turun dari bus malam di Terminal Pulogebang dengan satu ransel, sebuah koper murah, dan uang satu juta delapan ratus ribu rupiah di dompetnya.Itu pertama kalinya ia menginjak Jakarta.Sebelum berangkat, ibunya memasukkan dua bungkus rendang ke dalam tasnya.“Kalau belum dapat kerja, jangan sering makan di luar. Mahal,” pesan ibunya.Raka tertawa waktu itu.“Iya, Bu. Sebulan lagi Raka kirim uang.”Ia mengatakannya dengan percaya diri.Seolah Jakarta sedang menunggunya.
Ternyata tidak.Dua minggu pertama, Raka tinggal di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter bersama teman sekampungnya. Mereka tidur bergantian di kasur tipis dan lantai. Setiap pagi Raka mengenakan kemeja putih yang sama, menyetrikanya dengan setrika pinjaman, lalu berkeliling membawa map berisi belasan lembar CV.Ia masuk dari satu gedung ke gedung lain.“Titip CV, Pak.”“Lamaran lewat email saja.”“Kami belum buka lowongan.”“Nanti kalau cocok kami hubungi.”Kalimat terakhir itu yang paling sering ia dengar.Dan tak pernah ada yang menghubungi.Uangnya mulai menipis.Satu juta menjadi tujuh ratus ribu.Tujuh ratus menjadi tiga ratus.Rendang dari ibunya sudah lama habis.Suatu malam, Raka duduk sendirian di depan minimarket. Di tangannya ada sebungkus nasi dengan telur balado yang dibelinya seharga dua belas ribu rupiah.Ponselnya bergetar.IBURaka menatap layar cukup lama sebelum mengangkatnya.“Halo, Bu.”“Gimana kerjaannya?”Raka melihat sandal jepitnya yang mulai putus di bagian depan.“Alhamdulillah, lancar.”“Sudah dapat?”Ia terdiam.Hanya dua detik.Tetapi rasanya panjang sekali.“Sudah. Lagi masa percobaan.”“Oh, alhamdulillah…”Suara ibunya berubah cerah.“Kamu makan yang benar, ya. Jangan terlalu hemat.”Raka tersenyum sambil menahan sesuatu di tenggorokannya.“Iya, Bu.”Padahal malam itu, ia membagi nasi menjadi dua.Setengah untuk malam itu.Setengah lagi untuk sarapan.Besok paginya, Raka menerima pesan dari pemilik kos.Uang bulan berikutnya harus dibayar tiga hari lagi.Ia membuka aplikasi mobile banking.Saldo: Rp86.450.Untuk pertama kalinya sejak datang ke Jakarta, Raka berpikir untuk pulang.Ia bahkan membuka aplikasi tiket dan mencari bus menuju kampungnya.Rp285.000.
Tidak cukup.Lucunya, bahkan untuk menyerah pun ia tidak punya uang.Hari itu Raka berjalan tanpa tujuan sampai melihat selembar kertas tertempel di kaca sebuah rumah makan.DIBUTUHKAN KARYAWAN.Ia masuk.“Bisa kerja apa?” tanya pemiliknya.“Apa aja, Pak.”“Cuci piring?”“Bisa.”“Bersihin toilet?”“Bisa.”“Angkat barang?”“Bisa.”Padahal beberapa bulan sebelumnya Raka baru saja wisuda.Sarjana.Ayahnya yang sudah meninggal pernah berkata dengan bangga kepada tetangga bahwa anaknya akan bekerja di kantor besar.Sekarang setiap pagi ia mengangkat piring kotor.Siang mengantar pesanan.Malam mengepel lantai.Gajinya tidak besar.Tapi ia bisa bertahan.Bulan pertama, setelah membayar kos dan kebutuhan hidup, tersisa Rp300.000.Raka mengirim Rp200.000 kepada ibunya.Tak lama kemudian ibunya menelepon.“Kenapa kirim uang? Simpan buat kamu.”“Bonus, Bu.”Lagi-lagi Raka berbohong.Namun kali ini ia tersenyum.Setidaknya kebohongan itu membuat ibunya bahagia.Hari-hari berubah menjadi bulan.Di sela bekerja, Raka belajar dari ponselnya. Excel, bahasa Inggris, pemasaran digital, apa pun yang menurutnya bisa memberinya jalan keluar.Sering kali ia belajar pukul satu pagi dengan mata hampir tertutup.Temannya pernah bertanya,“Ngapain sih capek-capek? Besok kerja lagi.”Raka hanya menjawab,“Gue nggak mau selamanya di sini.”Enam bulan kemudian ia mendapat panggilan wawancara.Gagal.Bulan berikutnya, wawancara lagi.Gagal lagi.Yang ketiga, ia bahkan tidak lolos tes awal.Raka mulai bertanya-tanya apakah dirinya memang tidak cukup pintar.Sampai pada percobaan kesembilan, sebuah perusahaan kecil menerimanya sebagai staf administrasi.Gajinya hanya sedikit di atas upah minimum.Tetapi pada hari pertama bekerja, Raka datang tiga puluh menit lebih awal.Ia berdiri di depan gedung, memandang pintu kaca yang sebentar lagi akan dibuka.Bukan gedung besar.Bukan perusahaan terkenal.Tidak ada yang istimewa.Namun Raka tersenyum.Dua tahun kemudian, hidupnya belum seperti cerita motivasi di internet.Ia belum punya mobil.Belum punya rumah.Tabungannya bahkan beberapa kali habis karena kebutuhan keluarga.Tetapi kini ia memiliki pekerjaan yang lebih baik. Sebuah kamar kos yang tidak perlu dibagi dengan siapa pun. Dan setiap bulan, ada sejumlah uang yang selalu ia kirim kepada ibunya.Suatu malam menjelang Lebaran, Raka akhirnya membeli tiket pulang.Ketika bus memasuki kampungnya, ia melihat ibunya sudah menunggu di pinggir jalan.Rambut wanita itu terlihat lebih putih dibanding terakhir kali mereka bertemu.Raka turun membawa koper yang sama seperti saat pertama kali merantau.Koper murah itu sudah penuh goresan.Ibunya memeluknya.“Kamu kurusan.”Raka tertawa.“Perasaan tambah gemuk.”Malam itu mereka makan bersama di rumah kecil yang tidak berubah sedikit pun.Di tengah makan, ibunya tiba-tiba berkata,“Ibu sebenarnya tahu.”Raka berhenti mengunyah.“Tahu apa?”“Dulu waktu kamu bilang sudah dapat kerja.”Ibunya tersenyum.“Ibu tahu kamu bohong.”Raka terdiam.“Kok tahu?”“Namanya juga ibu.”Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.Kemudian ibunya melanjutkan,“Ibu cuma nggak mau bikin kamu merasa harus pulang karena kasihan sama Ibu.”Mata Raka mulai panas.Bertahun-tahun ia mengira dirinya sedang berjuang sendirian di kota orang.Ternyata dari rumah kecil ratusan kilometer jauhnya, ada seseorang yang setiap malam diam-diam ikut berjuang bersamanya.Raka menunduk.“Maaf ya, Bu. Raka belum jadi orang sukses.”Ibunya mengambil nasi dan menambahkannya ke piring Raka.“Siapa bilang belum?”Raka mengangkat kepala.Ibunya tersenyum.“Kamu pergi dengan tangan kosong, hidup susah sendirian, jatuh berkali-kali, tapi kamu nggak berubah jadi orang jahat.”Ia mendorong piring itu ke arah anaknya.“Buat Ibu, itu sudah sukses.”Malam semakin larut.Dari luar terdengar suara anak-anak bermain petasan.Raka memandangi koper tuanya di sudut ruangan.Dulu ia membawa koper itu pergi dengan mimpi menaklukkan kota.Sekarang ia mengerti sesuatu.Merantau ternyata bukan tentang seberapa jauh seseorang pergi.Bukan juga tentang berapa banyak uang yang dibawa pulang.Kadang, merantau hanyalah perjalanan panjang untuk mengetahui seberapa keras hidup bisa menghantammu—dan seberapa keras kepala kamu memilih untuk tetap berdiri.